Pada pedoman Daftar Penggolongan Penyakit dan Tindakan serta Tarif Pelayanan Kesehatan Bagi Masyarakat Miskin di Rumah Sakit Tahun 2008 yang diterbitkan oleh Departemen Kesehatan RI terdapat penggolongan 23 Major Diagnostic Categories (MDC) yang terbagi dalam 1077 diagnosis penyakit. Tarif pelayanan askes ini meliputi tarif pelayanan rawat inap (Inpatient Procedure) dan rawat jalan (Ambulatory Procedure) untuk rumah sakit tipe A, B, C, D, RSUPN Cipto Mangunkusumo, RSAB Harapan Kita, RSJP Harapan Kita, dan RS Kanker Dharmais. Komponen biaya yang ada dalam tarif INA-DRG meliputi jasa pelayanan, biaya pemeriksaan penunjang, biaya obat dan alat habis pakai, biaya akomodasi, dan biaya administrasi.
MDC
Keterangan MDC
1. Disease and Disorders of the Nervous System
2. Disease and Disorders of the Eye
3. Disease and Disorders of the Ear, Nose, Mouth, and Throat
4. Disease and Disorders of the Respiratory System
5. Disease and Disorders of the Circulatory System
6. Disease and Disorders of the Digestive System
7. Disease and Disorders of the Hepatobiliary System and Pancreas
8. Disease and Disorders of the Musculoskeletal System and Conn Tissue
9. Disease and Disorders of the Skin, Subcutaneous Tissue, and Breast
10. Disease and Disorders of the Endocrine, Nutritional, and Metabolic System
11. Disease and Disorders of the Urinary Tract
12. Disease and Disorders of the Male Reproductive System
13. Disease and Disorders of the Female Reproductive System
14. Childbirth
15. Newborns and Other Neonates
16. Diseases and Disorders of Blood, Blood Forming Organs, Immunolog Disorders
17. Myeloproliferative Diseases and Disorders, Poorly Differentiated Neoplasm
18. Infectious and Parasitic Diseases, Sistemic or Unspecified Sites
19. Mental Diseases and Disorders
20. Alcohol/Drug Use and Alcohol/Drug Induced Organic Mental Disorders
21. Injuries, Poisonings, and Toxic Effects of Drugs
22. Factors Influencing Health Status and Other Contacts With Health Service
23. Medical Outpatient Visit
Penentuan Diagnostic Related Group harus ditentukan lebih dulu sebelum ditetapkan tarif, diagnosis yang ada dikelompokkan dengan menggunakan flow chart seperti gambar diatas. Principal diagnostic adalah diagnosis yang berdasarkan International Disease Classification (ICD) yaitu kondisi yang dinilai sebagai penyebab utama pasien masuk rumah sakit. Major Diagnostic Category (MDC) yang terdiri dari 23 MDC dalam INA-DRG terdiri dari dua yaitu sistem organ yang terkena penyakit dan jenis penyakit. Misalnya dalam kasus diagnosis penyakit diare, sistem organ yang terkena adalah sistem saluran pencernaan dan jenis penyakitnya adalah penyakit infeksi dan parasit. Kemudian ditentukan apakah perlu untuk dilakukan tindakan pembedahan atau tidak. Tetapkan apakah umur, komplikasi, komorbiditas berpengaruh.
Dalam DRG juga dikenal istilah trimming yaitu suatu metode yang digunakan oleh pihak rumah sakit untuk menyingkirkan kelompok pasien yang tidak biasa dengan tujuan untuk melindungi rumah sakit dari kerugian finansial yang besar akibat dari kasus-kasus mahal. Dimana kasus-kasus ini dikenal dengan istilah kasus outlier yaitu kasus-kasus yang memiliki LOS yang cukup lama dan banyak menyerap sumberdaya. Pasien dengan lama tinggal pendek atau lama tinggal panjang yang tidak khas untuk suatu kelompok tertentu dipisahkan dari pasien lain. Mereka dinyatakan sebagai outlier. Jumlah dari outlier tergantung pada trim (cut off/titik potong) yang akan membedakan pasien yang memiliki lama hari tinggal khas/tidak. Setiap DRG memiliki paling tidak satu titik potong dan juga memiliki trim/titik terendah (low stay). Semua hal dipertimbangkan, semakin sempit titik potong semakin besar jumlah outliernya, atau pasien terlihat sebagai anomali medis. Titik potong bisa saja didasarkan pada kriteria statistik atau medis, seperti kebijakan prerogatif penetapan nilai oleh agensi. Arsitek dari DRG, Perist dari Yale University, mendefinisikan kurang dari 5% pasien sebagai outlier.
Beberapa keuntungan dari pengimplementasian metode DRG yaitu :
Bagi rumah sakit yaitu sebagai salah satu cara untuk meningkatkan mutu standar pelayanan kesehatan, memantau pelaksanaan program ”Quality Assurance”, memudahkan mendapatkan informasi mengenai variasi pelayanan kesehatan, dapat digunakan untuk mengevaluasi kualitas pelayanan kesehatan, dapat mempelajari proses pelayanan pasien, adanya rencana pelayanan pasien yang tepat, dan dapat dijadikan sebagai alat perencanaan anggaran rumah sakit.
Bagi pasien, yaitu memberikan prioritas pelayanan kesehatan berdasarkan tingkat keparahan penyakit, pasien menerima kualitas pelayanan kesehatan yang baik, mengurangi/meminimalkan risiko yang dihadapi pasien, dan mempercepat pemulihan dan meminimalkan kecacatan.
Bagi institusi kesehatan, yaitu dapat mengevaluasi dan membandingkan kinerja rumah sakit, benchmarking, area untuk audit klinis, mengembangkan kerangka kerja klinis dan alur pelayanan kesehatan (SOP), dan menstandardisasi proses pelayanan kesehatan di rumah sakit.

0 komentar:
Posting Komentar